Malang

Standar


 

33

Profil
Nama Resmi : Kota Malang
Ibukota : Malang
Provinsi  : Jawa Timur
Batas Wilayah : Utara: Kabupaten Malang
Selatan: Kabupaten Malang
Barat: Kabupaten Malang
Timur: Kabupaten Malang
Luas Wilayah : 110,06 Km²
Jumlah Penduduk : 756.982 Jiwa (Sensus Penduduk 2000)
Wilayah Administrasi : Kecamatan: 6

 

 

Keterangan :

  • Motto “MALANG KUCECWARA” berarti Tuhan menghancurkan yang bathil, menegakkan yang benar
  • Arti Warna :
    • Merah Putih, adalah lambang bendera nasional Indonesia
    • Kuning, berarti keluhuran dan kebesaran
    • Hijau adalah kesuburan
    • Biru Muda berarti Kesetiaan pada Tuhan, Negara dan bangsa
  • Segilima berbentuk perisai bermaknasemangat perjuangan kepahlawanan, kondisi geografis, pegunungan, serta semangat membangun untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

DPRDGR mengkukuhkan lambang Kotamadya Malang dengan perda No. 4/1970.

Bunyi semboyan pada lambang “MALANG KUCECWARA”

Semboyan tersebut dipakai sejak hari peringatan 50 tahun berdirinya Kotapraja Malang 1964, sebelum itu yang di gunakan adalah

“MALANG NAMAKU, MAJU TUJUANKU”

 “MALANG NOMINATOR, SURSUMMOVEOR” .

Yang disyahkan dengan “Gouvernement besluit dd. 25 April 1938 N. 027″. Semboyan bari itu diusulkan oleh Almarhum Prod.DR. R.Ng.Poernatjaraka, dan erat hubungannya dengan asal mula Kota Malang pada jaman Ken Arok.

 

Sejarah

Nama kota Malang berasal dari nama Batara MalangKucecwara seperti yang tertulis di dalam Piagam Kedu (tahun 907) dan Piagam Singhasari (tahun 908). Menurut penelitian para ahli seperti Bosch, Krom, Stein Calleneis, nama Batara Malang Kucecwara sesungguhnya nama Raja setempat yang telah wafat dan dimakamkan di dalam Candi Malang Kucecwara. Malangkucecwara berasal dari tiga kata, yakni : Mala yang berarti segala sesuatu yang kotor, kecurangan, kepalsuan, atau bathil, Angkuca yang berarti menghancurkan atau membinasakan dan Icwara yang berarti Tuhan. Dengan demikian Malangkucecwara berarti “TUHAN MENGHANCURKAN YANG BATHIL”.

Kitab Pararaton yang ditulis pada tahun 1481 atau 250 tahun setelah masa kerajaan Singosari, kitab Pararaton yang sudah tidak menggunakan bahasa Jawa Kuno tapi sudah menggunakan bahasa Jawa Pertengahan ini dijadikan sebagai sumber sejarah nama kota Malang.

Seperti kisah yang disebutkan di dalam kitab Pararaton bahwa segitiga pusat kegiatan Kutaraja pada masa Ken Arok banyak peninggalan berupa candi Singosari, Candi Kegenengan, Candi Kidal, Candi Jago, Candi Badut, Palandit (kini menjadi Wendit) dan Kebalon (kini menjadi Kebalen) merupakan pusat mandala atau panepen (tempat menyepi) yang juga disebutkan di dalam Negara Kertagama.

Di sekitar Kebalen – Kuto Bedah – Sungai Brantas banyak dijumpai gua buatan manusia yang hingga sekarang masih digunakan untuk tempat menyepi oleh pengikut mistik dan kepercayaan. Bukti lain yang menyebutkan daerah yang dekat dengan daerah ini adalah nama Turyanpada kini menjadi Turen, Lulumbang kini menjadi Lumbangsari, Warigadya kini menjadi Wagir, Karuman kini menjadi Kauman.

Istilah Kebalon hanya dikenal oleh kalangan bangsawan saja dan rakyat pada masa itu hanya tetap menyebut dan mengenal sebagai petilasan Malangkucecwara dengan nama Malang yang kemudian diwariskan hingga sekarang. Malang Kucecwara memiliki arti “Tuhan menghancurkan yang bathil dan menegakkan yang baik”.

Kota Malang di Masa Penjajahan Belanda 

Setelah Kerajaan Mataram Islam menguasai banyak wilayah pengikut agama Hindu dan Ciwa menyingkir di daerah Tengger yang kemudian keturunannya sekarang ini disebut sebagai masyarakat Tengger. Kedatangan bangsa Portugis, Belanda, Inggris menyebabkan kerajaan Mataram mengalami kemunduran yang kemudian seluruh nusantara menjadi jajahan Belanda.

Menurut buku yang berjudul “History of Java” karangan Gubernur Jenderal Raffles (1812), kota Malang merupakan daerah perkebunan miliki pemerintahan Belanda dibawah kabupaten Pasuruan. Setelah Pemerintah Belanda membangun rel kereta api, Malang menjadi berkembang pesat setelah dijadikan perkebunan tebu dan industri gula. Hingga saat ini 2 pabrik gula peninggalan pemerintah Belanda masih beroperasi dengan baik yaitu PG Kebon Agung dan PG Krebet Baru.

Sedangkan kawasan pemukiman orang-orang Belanda pada saat itu banyak berada di sekitar kawasan yang sekarang di sebut sebagai Jalan Ijen. Rumah-rumah di sepanjang Jalan Ijen dan sekitarnya yang sekarang masih berdiri dengan tegaknya merupakan bangunan-bangunan peninggalan jaman Belanda.

Bangunan-bangunan peninggalan masa penjajahan Belanda di Malang yang masih berdiri hingga sekarang di antaranya seperti :
Stasiun Kereta Api, Balai kota Malang, SMA 1, SMA 3, SMA 4 (bekas markas militer, depan balai kota), Hotel Splendid, Masjid Jami’ (Alun-Alun), Gereja Katedral (alun-alun), Gereja Ijen (jalan Ijen), Bank Bukopin (Jalan Semeru), Bank Indonesia (alun-alun), Rumah Sakit Dr. Supraun (Sukun)Toko OEN (Jalan Basuki Rahmat), PG Kebon Agung, PG Krebet Baru, Pasar Besar Malang (sudah berubah bentuk/renovasi). (kpl/wim)

Kota malang dari tahun 1767 sampai sekarang

  • Tahun 1767 Kompeni memasuki Kota
  • Tahun 1821 kedudukan Pemerintah Belanda di pusatkan di sekitar kali Brantas
  • Tahun 1824 Malang mempunyai Asisten Residen
  • Tahun 1882 rumah-rumah di bagian barat Kota di dirikan dan Kota didirikan alun-alun di bangun.
  • 1 April 1914 Malang di tetapkan sebagai Kotapraja
  • 8 Maret 1942 Malang diduduki Jepang
  • 21 September 1945 Malang masuk Wilayah Republik Indonesia
  • 22 Juli 1947 Malang diduduki Belanda
  • 2 Maret 1947 Pemerintah Republik Indonesia kembali memasuki Kota Malang.
  • 1 Januari 2001, menjadi Pemerintah Kota Malang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s